Bagikan Berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Tim fasilitator, peserta, dan panitia lokakarya anti korupsi foto bersama usai kegiatan.
Tim fasilitator, peserta, dan panitia lokakarya anti korupsi foto bersama usai kegiatan.

ARIWARA; Pontianak – Korupsi sudah menyebar ke mana-mana, hampir ada semua lini kehidupan. Karenanya, penyadaran tentang korupsi harus dimulai dari diri sendiri. Penyadaran diri, membuat komitmen untuk tidak melakukan kejahatan korupsi, perbuatan yang tidak terpuji. Setelah diri sendiri dasar, dilanjutkan mengajak orang lain untuk sadar juga.

Hal tersebut yang ingin dicapai dari pelaksanan Lokakarya Anti Korupsi di Ruang Sidang STIE Widya Dharma, Jl Merdeka Timur Pontianak, 24-25 Oktober 2015. Kegiatan tersebut hasil kerja sama Yayasan Widya Dharma Pontianak dengan Yayasan Bhumiksara dan Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI).

“Kami berharap, ini bisa menjadi gerakan luas, tidak selesai setelah seminar,” ujar Romo Adisusanto SJ, perwakilan KWI (bidang dokumentasi dan penerangan), disela-sela kegiatan, Sabtu (24/10), didampingi ketua panitia kegiatan, Cecilia Dewi SSi MBA. Peserta lokakarya terdiri dari para pimpinan di lingkungan kerjanya, sehingga diharapkan bisa menularkan penyadaran korupsi pada bagian di bawahnya.

Lokakarya ini kali kedua diadakan di Keuskupan Pontianak, pertama kali digelar di Nyarungkop Singkawang. Untuk perguruan tinggi di Pontianak, ini yang pertama. Selain Romo Adisusanto SJ, pembicara lain dari Jakarta yang turut hadir diantaranya; Aloysius Nurbandana (pensiunan caltex), Agnes Dosorini (psikolog), dan Royani Ping (sekretaris eksekutif Bhumiksara).

“Jika penyadaran anti korupsi oleh KPK lebih pada masalah dan kasus di luar dirinya sendiri. Yang kami tuju melihat diri sendiri. Berapa jauh diri kita sendiri ikut menyumbang pada terjadinya korupsi,” katanya.

Menurutnya, lokakarnya tersebut penerapan model dari Filipina. Diawali dengan gereja merasa korupsi di Filipina makin merebak. Gereja membuat penelitian tentang korupsi, lalu melakukan gerakan anti korupsi yang disabarluaskan ke mana-mana. Bhumiksara mengudang pihak Filipina ke Indonesia untuk membagikan gerakan anti korupsi. “Pengaplikasiannya disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Ini sudah dijalankan sejak 2012,” ujarnya.

Kata Romo Adisusanto, “Kami mencoba membersihkan halaman rumah sendiri terlebih dulu, sebelum membersihkan halaman orang lain.” Karenanya, lokakarya pertama kali digelar di Keuskupan Pontianak (Widya Dharma). “Kami para narasumber merupakan voulenter, karenanya seminar digelar saat weekend,” tambahnya.

Terpisah, Cecilia Dewi menyampaikan, kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan upaya pemberantasan korupsi tersebut dihadiri oleh pimpinan, direktur, dan perwakilan beberapa perguruan tinggi di Pontianak. Lokakarya tersebut juga bagian dari bentuk kepedulian Yayasan Widya Dharma pada gerakan anti korupsi.

“Kejahatan korupsi ibarat virus berbahaya yang telah menyebar luas dan menjangkit semua kalangan. Untuk memberantas penyakit akut ini dibutuhkan kerja sama dan membentuk sebuah gerakan bersama. Melalui lokakarya ini, kami berharap seluruh peserta dapat menjadi panutan yang siap memerangi korupsi,” katanya.

Tidak hanya di Pontianak, Yayasan Bhumiksara bersama KWI Purwokerto telah melaksanakan kegiatan serupa di Palangkaraya, Manado, Padang, Bandung, dan Sintang. Dalam kegiatan tersebut, tim fasilitator mengajak seluruh peserta memahami masalah korupsi, menganalisa isu korupsi jangka pendek dan jangka panjang, serta dapat merefleksikan diri agar sadar untuk mencegah korupsi. (*)

Sumber: Harian Pontianak Post

Bagikan Berita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Berita Populer

Berita Terbaru